I Sing to It. You?

Memories taught me how to deal with pain very well..

Hari ini saya menemukan koleksi lagu di handphone (HP) ku terdahulu, yang sudah lama saya simpan dan sempat terlupakan. HP andalan ku pada tahun-tahun yang bisa saya sebut sebagai glorious years of my life. Ya, pada masanya, saya terhitung masih sangat muda dan merdeka, secara pikiran mau pun tindakan. Batasannya hanya pada tanggung jawab atas nama baik orang tua dan keluarga. Tidak ada tekanan dari segi umur atau ekspektasi orang-orang yang berkepentingan atas saya. Meskipun secara harfiah, saya memang masih memiliki kemerdekaan itu sampai sekarang. Hanya saja tanggung jawab yang semakin hari semakin berkembang mau tidak mau sedikit-banyak memiliki pengaruh pada kemerdekaan tersebut.

Baiklah, lupakan soal kemerdekaan. Kali ini saya ingin membahas mengenai ratusan lagu yang tersimpan pada micro memory card (MMC) di HP lama saya tadi. Bak bensin langka, lagu-lagu pada MMC tadi mengisi kembali kekosongan lagu lama di notebook saya yang datanya sempat tersapu habis, hilang. Bergegas saya pindahkan lagu yang ada. Satu hal yang paling menyita perhatian saya saat itu adalah, memories! Kenangan demi kenangan dari setiap lagu yang menyeruak muncul di pikiran dan perasaan saya dalam hitungan detik. Saat senang, susah, sedih, marah, kejadian ini, kejadian itu. Setiap lagu mewakili berbagai perasaan dan kenangannya masing-masing. Layaknya spons/penyerap berkualitas tinggi, lagu dapat menyerap dan menyimpan banyak kenangan dalam waktu yang lama bahkan mungkin abadi.

Tidak sedikit lagu yang telah “berubah arti” dalam perjalanan hidup saya selama ini. Jangankan seumur hidup, satu tahun ini saja sepertinya puluhan sudah yang “gugur” jadi korban dari berbagai kejadian yang diliputi macam-macam perasaan. Yang saya sadari, tahun ini lebih banyak yang “rusak” daripada yang menjadi “perhiasan”. Di mana kebanyakan korbannya adalah lagu favorite yang saya gunakan sebagai ringtone HP lalu kemudian menjadi terdengarkan di saat-saat yang kurang baik dalam hidup saya. Blame the caller! :p

Did you get the point? Ya, saya sedang membahas lagu dan kenangan, keterkaitan antar keduanya khususnya. Pernah terpikir tidak, kalau ketika lagu yang “mengandung” kenangan baik di dalamnya akan menjadi tidak begitu masalah ketika kita mendengarnya lagi di waktu-waktu kemudian? Jelas, kenapa harus menjadi masalah ketika itu hal baik dan menyenangkan, kan? Tapi, bagaimana dengan lagu yang menyimpan kenangan buruk? Anda akan bersegera memindahkannya, menggantinya dengan lagu yang lain, atau justru mendengarkannya sambil meratap bahkan menangis tersedu-sedu?

Secara pribadi, saya pernah mengalami kesemuanya. Dari mulai memilih menghindar untuk mendengarkan lagu yang menyimpan kenangan kurang baik di hidup saya, menghapusnya dari playlist, mendengarkannya sampai kemudian tidak dapat menahan tangis karena terus-menerus terseret ke kejadian buruk di masa lalu, hingga mendengarkannya kembali dan baik-baik saja. Intinya, lagu membawa saya ke kenangan di masa lalu, baik maupun buruk, menerpa, menempa, hingga kemudian menjadikan saya kuat dan mampu menghadapi yang terburuk sekalipun. Ternyata kenangan adalah guru terbaik untuk belajar bagaimana mengatasi rasa sakit, lagu sebagai media berlatih yang baik, dan diri kita sendiri sebagai penentunya. Saya bahkan sudah terbiasa menyanyikan lagu-lagu dengan kenangan terburuk pun sekarang.

Berawal dari rasa muak untuk selalu menghindar, yang membawa saya ke keputusan untuk membiasakan diri menghadapi flashback theater yang terjadi di pikiran dan perasaan, seburuk apapun. Berusaha menyanyikan meski dengan nafas tersengal-sengal dan air mata yang melembabkan pipi, sampai akhirnya dapat ikut bernyanyi sampai habis layaknya tidak ada kenangan apa-apa pada lagu tersebut. Sebut saja itu sebagai proses netralisasi. Menetralkan lagu yang sempat terisi emosi-emosi buruk menjadi baik kembali.

Oh ya, dari banyak lagu yang saya temukan kembali di MMC HP saya itu, ada satu lagu yang paling membuat saya sangat kangen dengan masanya. Yang satu ini kenangannya sangat baik. Masa di mana saya sedang semangat-semangatnya menghadapi tahun-tahun awal kuliah dan sebuah pekerjaan sebagai seorang Public Relations sebuah graphic lounge. Salah satu “teman” favorite saya ketika sedang di perjalanan. Lagu yang membuat saya tertawa-tawa ketika pertama kali mendengarnya tetapi langsung suka. Genit, tapi lucu, fresh, menyenangkan. Ah ya, intinya lagu yang menjadi booster semangat saya saat itu. I love this song! So much! 

Here, have a listen! :)