Dear Fear, Stay Far.

Seems brave enough, tough enough, strong enough, independent enough as a woman, people see me. I know.
They just don’t know me as a whole. They only see what I want them to see.

Now let me tell you something..

I’m not that strong..
I have a fear..
I’m not that independent..
on love.

Love is my weakness.
I was affraid of love.
Years ago, I trapped in that fear.
People are right if they think I fear of nothing.
I do fear of nothing, but love.

Now I’m engaged. Do I still feel that fear? I do.
I just stay a little bit far. Try to ignore it sometimes. But it still comes over me all the time.

I won’t let you win, fear. I also won’t let you go.
You keep me awake. You keep me aware.
Just stay, but far. Far away.

image

Cinderella Story

I never wear flats. My shoes are so high that sometimes when I step out of them, people look around in confusion and ask, “Where’d she go?” and I have to say, “I’m down here.” — Marian Keyes

Saya suka quote di atas, alasannya sederhana, karena itu juga yang terjadi pada saya. Mereka (hampir semua orang.red) pikir saya tinggi, sampai waktunya saya harus turun dari topangan alas kaki bertumit tinggi yang hampir setiap waktu mendukung aktivitas saya di luar rumah. Mungkin karena itu juga banyak orang yang kekeuh bilang saya tinggi. Keyakinan tersebut baru akan dapat terpatahkan ketika mereka berdampingan dengan saya di dalam rumah, masjid, atau mushola yang mewajibkan kami bertelanjang kaki. Lalu reaksinya kurang-lebih akan seperti yang ada pada kutipan di atas. Ya, kami senasib!

Bicara tentang sepatu, hari ini saya punya cerita dengan sepatu sebagai pemeran utamanya. Jadi, dua hari yang lalu, saya pergi bersama seluruh anggota keluarga lengkap (empat orang) untuk makan dan berbelanja bersama setelah satu bulan kami tidak berkumpul. Singkat cerita, terpilih lah dua pasang sepatu yang kemudian berpindah kepemilikan kepada saya hari itu. Sampai di rumah, sudah hampir tengah malam dan terlalu lelah untuk merapikan si sepatu pendatang baru ke dalam kelompok sepatu lainnya, jadi saya putuskan untuk menundanya sampai esok hari.

Keesokan harinya saat sedang bersantai setelah sarapan, saya mulai membuka kembali kotak sepatu yang belum sempat dirapikan kemarin itu. Saya buka dan periksa kembali kondisinya. Sepasang sepatu pertama semuanya baik-baik saja, kejutan terdapat pada sepasang sepatu berikutnya. Sepasang pump shoes yang terlihat tidak bermasalah sampai kemudian saya periksa bagian bawah/alas keduanya. Ada yang aneh, yang kanan (ukuran) enam, yang kiri enam-setengah. Ya, beda ukuran! *lemas*

Hal pertama yang terlintas di kepala adalah menghubungi mama untuk menanyakan keberadaan bukti pembelian sepatu-sepatu tersebut. Yang kemudian membawa saya kepada kegiatan membongkar tong sampah yang berisi kertas, tissue, plastik bekas roti dan sampah-sampah lainnya. Lalu, ketemu! Langkah pertama selesai. Langkah berikutnya adalah yang terberat, yaitu kembali ke mall tempat sepatu tersebut dibeli yang notabenenya TIDAK dekat dari rumah. Jarak rumahku ke mall tersebut kurang lebih sama dengan jumlah waktu yang dihabiskan untuk sebuah tidur siang berkualitas. Mungkin akan tidak asing bagi orang yang sudah sering atau pernah datang ke Bandung. Nama mall-nya Paris Van Java. Tidak ada pilihan, satu-satunya jalan adalah kembali ke sana.

Sesampainya di mall dan butik sepatu, saya disambut dengan hujan maaf dari sang manager yang kebetulan saat itu menyambut saya sejak awal masuk. Tidak sampai lima menit sepatu saya akhirnya memiliki nomor yang sama kanan dan kirinya, nomor enam.

Lucu, sempat panik tapi tidak ingin marah, hanya sedikit lelah karena harus bolak-balik ke sana dua hari berturut-turut. Lucu karena saya ingat bagaimana proses tertukarnya. Saat itu saya sedang mencoba sepasang sepatu nomor enam sampai kemudian saya meminta pegawainya untuk membawakan sepatu dengan model dan nomor yang sama, hanya untuk melakukan perbandingan kondisi dan kerapiannya. Pada saat itu lah sang mas salah membawakan sepasang sepatu yang dikiranya nomor enam padahal enam-setengah, kemudian membawa saya kepada “tinggal pilih mana yang lebih rapi” tapi malah membuatnya menjadi tertukar pasang-pasangannya. Saya yang cukup teliti terhadap kondisi dan kualitas barang ternyata kurang teliti di dalam pemeriksaan ukuran karena terlalu bergantung dan memercayakan hal tersebut kepada pramuniaga. Sang kasir yang seharusnya memeriksa kembali ukuran pada setiap sepatu pun sepertinya tidak menaruh perhatian. Well, lessons learned!

Ini dia sang pemeran utama yang saya bicarakan dari tadi, si sepatu sebelah kiri (nomor enam) yang semalam tidak terbawa pulang dan menginap di mall tanpa pasangannya. Welcome home!