Selamat Hari Ibu, Mama.

Lahir, tumbuh dan besar di dalam lingkungan sebuah keluarga yang sederhana, tapi tidak pernah kekurangan. Itu saya. Kebahagiaan yang tidak pernah absen dari kehidupanku, membuat saya yakin bahwa cinta dalam keluarga kami adalah harta yang sesungguhnya. Tidak pernah alpa untuk bersyukur dan berusaha, menjadi pemandangan sehari-hari saya selama ini. Saya lahir dari sepasang manusia luar biasa.
Tumbuh dalam kebahagiaan dari kebercukupan tidak menjadikan saya menginginkan hal yang sama untuk masa depanku. Jika kedua orang tuaku adalah orang-orang yang suka berlayar di laut tenang di atas perahu yang mereka bangun bersama, saya terlahir dengan kesukaan yang berbeda. Seperempat abad berada di laut tenang dengan segala buaian sudah merupakan waktu yang cukup bagiku. Saatnya menemui ombak.

Sebagai seorang anak, saya merasa lebih mirip sebagai cobaan bagi kedua orang tuaku. Terutama mama. Sosok ibu yang sewajarnya, yang juga mengharapkan jalan hidup yang wajar bagi anak-anaknya sebagaimana ibu-ibu lainnya di dunia.
Melebihi kuat, tegar dan tabah, ibuku adalah gabungan dari kesemuanya. Menerima keinginan anak-anaknya yang memilih cara hidup di luar dari kewajaran manusia timur—yang kental akan adat, budaya dan kebiasaannya—menjadikan mama sebagai golongan terpuji diantara seluruh kalangan manusia di dunia, bagiku. Ilmunya untuk memahami kami melebihi kemampuan ilmuan manapun. Bukan hanya logika, memerangi egonya sendiri menjadi kemampuan tertingginya yang saya yakin tak akan tertandingi oleh siapapun.

Jika saya sempat menyebut kata kami, yang saya maksud adalah saya dan kakak perempuanku satu-satunya. Kami dua bersaudara, dua wanita yang dibesarkan orang tua kami dalam kesederhanaan tadi. Perbedaan usia lima tahun seakan musnah dengan kedekatan yang terjalin di antara kami berdua. Kami lebih mirip seperti dua orang sahabat. Kadang ia tetap berlaku layaknya seorang kakak, atau justru sebaliknya. Ya, entah sejak kapan posisi kami menjadi begitu seimbang.

Mengambil keputusan untuk menjalani cara hidup yang berbeda dengan kebiasaan orang-orang timur kebanyakan, menjadikan kami sosok yang cukup mencolok. Di lingkungan keluarga besar, maupun di antara teman-teman sebaya. Hal tersebut kami terima sebagai konsekuensi dari lahir, besar dan tinggal di peradaban timur ini. Meskipun dari luar kelihatannya tenang, saya tahu kasak-kusuk itu tidak pernah reda. Tidak ada yang pernah membuat kami risau. Terkecuali apabila itu sampai mengganggu perasaan orang tua kami. Karena hanya itu yang terpenting. Bagiku pribadi, mereka adalah alasan saya hidup di dunia. Tidak ada yang lain.

Menemui ombak, menentukan jalan hidupku sendiri, mengambil keputusan-keputusan di luar nalar, menantang resiko besar, menjadi tidak biasa dengan berjalan di luar jalur normal, merupakan hal-hal yang mungkin tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya. Karena (mungkin) sepatutnya menjadi anak yang “normal” dengan jalan hidup yang “lurus” merupakan cara yang benar untuk membahagiakan orang tuanya. Jadi, apa dengan begini saya tidak membahagiakan orang tuaku? Belum.

Saya percaya, bahwa tidak harus selalu menggunakan jalan yang sama untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti sebuah pepatah bilang “Banyak jalan menuju Roma” kan? Tidak aneh saya selalu suka pepatah itu sejak kecil dulu.
Mengapa tidak menjadi “normal” saja? Mengapa tidak melewati jalan yang “seharusnya” saja? Jawabannya, karena ini: Orang tuaku akan bahagia ketika melihat anaknya bahagia. Dapat maknanya? Saya hanya akan dapat membuat mereka bahagia dengan membuat diri saya sendiri bahagia. Terdengar egois memang, tetapi itu yang selalu ibuku katakan kepada saya sejak dulu. Kebahagiaanku adalah kebahagiaan mereka. Dan, cara saya untuk bahagia memang agak rumit, berbelit-belit dan tidak sama dengan cara orang timur lainnya. Oleh karena itu saya terpaksa membawa mereka juga untuk menunggu sedikit lebih lama. Hanya satu yang selalu saya harapkan selama ini, bahwa mereka akan selalu ada, sehat dan bahagia sampai saatnya nanti kebahagiaan itu berasal dariku. Semoga Tuhan mengizinkan. Amin.

Mama

I love you, Mom. Tidak pernah berkurang sedikitpun, selalu bertambah setiap harinya. Semoga menunggu tidak akan pernah membuatmu jengah. Karena saya berjanji, suatu saat kebahagiaan itu benar-benar akan saya persembahkan untukmu, dan untuk papa. Mohon selalu doa dan restumu. May God always be with you..

♥,
Your daughter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s