Budak Buku

Membaca buku di dalam kamar mandi, di atas sebuah closet yang tertutup. Hanya untuk membaca. Bukan sengaja, melainkan karena lampu kamar sudah dimatikan sehingga gelap. Seseorang harus tidur cukup sebelum bekerja.

Pilihannya hanya terduduk di closet kamar mandi atau meraih kunci mobil untuk kemudian mencari tempat terang (coffee shop 24 jam) lengkap dengan secangkir kopi panasnya. Ya, sampai saat ini saya masih bertahan dengan pilihan pertama. Meskipun secangkir kopi sudah membayang-bayangi mata dan menghantui kepala sedari tadi. Kita lihat nanti seberapa kuat saya bertahan menghadapi rayuannya.

Tiba-tiba saya merasa seperti seorang budak. Budak buku lebih tepatnya. Lebih rela menghabiskan bermalam-malam menatap lekat deretan huruf di atas kertas dibandingkan untuk memejam. Bahkan meski harus di atas closet sekalipun. Jujur meskipun suhu kamar sudah diatur dalam suhu rendah, saya merasa di sini jauh lebih dingin. Mungkin karena saya terlalu dekat dengan sumber-sumber air, atau alasan logis lainnya yang saya belum tahu.

Untuk yang satu ini, saya adalah budak yang setia. Setia bukan karena dipaksa, melainkan jatuh cinta. Terbawa arus secara sukarela. Terombang-ambing, panas, dingin, pahit, manis, segala emosi saya nikmati sepenuh hati. Berjibaku dengan dunianya dan duniaku, menjadi satu dalam sebuah pertunjukan indah, theater of mind.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s